Posted in My Space, My Story

Komunikasi Itu Penting di Keluarga

Saya belajar banyak dari beberapa peristiwa dan pengalaman keluarga yang ada di sekitar saya maupun yang pernah saya temui secara tidak sengaja. Entah kenapa sebagian besar masalah yang muncul diantara keluarga yang pernah saya temui, even keluarga saya sendiri adalah komunikasi dan keterbukaan antar anggota keluarga.

Diam seakan menjadi sebuah solusi terbaik dari setiap permasalahan dengan harapan diam akan membuat semuanya cepat kembali seperti semula. Diam tidak akan menambah masalah. Diam itu emas. Tapi dari apa yang saya lihat, justru diam bisa menjadi solusi yang tidak baik dan dapat menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak ketika sudah dihadapkan pada masalah yang lebih besar lagi. Segala uneg-uneg dapat menjadi senjata ampuh di kemudian hari untuk menyerang lawan dengan alasan selama ini sudah menyimpannya terlalu lama. Padahal bukankah diam berarti memutus kesempatan komunikasi dan mencari solusi terbaiknya? Yah, walaupun diam memang bisa menjadikan suasana jauh lebih tentram. Tapi itu yang tampak kan?

Ada lagi. berbicara blak-blakan dengan nada tinggi hingga sampai pada pertengkaran hebat juga terkadang dianggap sebuah solusi saat ada masalah. Banyak orang dengan temperamen tinggi memilih ini saat ada masalah. Bertengkar dan adu mulut satu sama lain. Hingga pun akhirnya ini tidak bisa menyelesaikan masalah karena pihak-pihak yang terlibat hanya berusaha berargumen untuk menyokong dirinya. Lagi-lagi ini salah.

Yah, memang sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tidak berbicara sama sekali alias diam tidak selamanya baik, berkoar-koar adu argumen pun bukan solusi yang pas. Dua-duanya hanya bisa menjadi sesuatu yang justru akan menambah masalah baru. Tidak sedikit kan yang hasilnya cukup fatal di kemudian hari.

Lalu, apa yang saya pelajari? Komunikasi. Iya komunikasi, kejujuran dan keterbukaan serta saling menghargai adalah solusi setiap permasalahan dalam keluarga, antara suami dan istri, orang tua dan anak, even antaranak. Komunikasi dan keterbukaan yang baik akan membuat setiap pribadi akan nyaman satu sama lain untuk berpendapat dan win-win solution tentu saja akan tercipta. Saya mungkin seakan berteori di sini. Tapi bukankah memang idealnya ini yang terbentuk? Teori memang selalu nampak sempurna, tapi bukankah tidak ada salahnya dicoba? Itu yang saya amati akhir-akhir ini.

Banyak keluarga even keluarga saya yang tidak menerapkan keterbukaan saat ada masalah. Keluarga saya cukup terbuka, tapi entah kenapa rasanya saat ada masalah setiap anggota keluarga terdorong untuk memilih diam sebagai solusi. Saya rasakan itu, tapi ternyata itu bukan yang terbaik. Karena diam banyak memunculkan banyak kira dan tanya di pribadi masing-masing, prasangka baik dan buruk yang justru sebenarnya malah jadi bumerang di kemudian hari. Siapa yang bisa mengira, kalau kemudian hari,ini bisa jadi senjata ampuh untuk menyerang, padahal apa yang disangkakan belum tentu benar dan bisa jadi akan menambah masalah baru.

Tidak terbuka dan membangun komunikasi yang baik pun bisa berpengaruh pada pembentukan karakter. Ini pun saya rasakan sendiri. Introvert hingga temperamen yang tinggi. Karena tidak adanya wadah dan kesempatan untuk menyampaikan apa yang menjadi ganjalan. Pun bisa menjadi sesuatu yang meluap-luap karena tidak terbukanya kesempatan setiap waktu untuk mengkomunikasikan. Tidak ada wadah, tidak ada waktu di mana setiap anggota keluarga bisa mengkomunikasikan apa yang terjadi padanya hingga yang ada di benaknya. Yah, lagi-lagi tentang membangun komunikasi. Maaf jika pendapat saya keliru. Tapi ini yang saya perhatikan.

Apa yang saya bayangkan tentang family goals adalah adanya sebuah keluarga di mana orang tua sejak awal membiasakan membangun komunikasi sejak awal mereka membangun keluarga. Ada komitmen bersama untuk memulai komunikasi yang baik yang dilandasi kejujuran dan keterbukaan. Setiap masalah dibicarakan, hal baik dan buruk dikomunikasikan,bersama-sama mencari solusi dari setiap permasalahan. Intinya terbuka. Pun demikian yang diajarkan dan dibiasakan kepada anak, kejujuran, keterbukaan, dan saling menghargai. Membangun kejujuran mengakui kesalahan, kejujuran menghargai karya orang, kelapangan mengatakan “maaf” dan “terima kasih”, kebiasaan sopan ketika meminta sesuatu atau meminta pertolongan dengan kata “please” misalnya. Banyak, banyak sekali.

Saya membayangkan sebuah keluarga di mana ada waktu tertentu setiap hari di mana semua anggota keluarga duduk bersama bersantai sambil menceritakan apapun yang mereka lewati hingga menyelesaikan permasalahan saat itu juga jika ada. Saya membayangkan kelak ada waktu berdua dengan pasangan di mana kami akan duduk selepas sholat sambil membicarakan banyak hal, even meminta maaf jika memang memiliki salah. Intinya terbuka dan komunikasi yang baik. Bukankah sangat indah jika demikian? Jika setiap masalah segera dicarikan solusinya, dibicarakan bersama, saling mengakui kesalahan masing-masing jika ada, belajar meminta maaf dan memafkan secara terbuka, jujur. Biar apa? Biar plong dan tidak ada keluh lagi tersimpan di hati. Biar hati kembali lapang karena menerima dan memafkan untuk memulai hari yang baru lagi.

Indah bukan jika demikian?

Mari kita sama-sama berusaha membangun ini dalam keluarga, dan tidak menjadikan diam sebagai solusi terampuh atau beradu mulut sebagai jalan keluar terakhir saat ada masalah dalam keluarga. Intinya saling menghargai. Mungkin tidak mudah bagi mereka yang sudah mengakar hebat kedua cara di atas dalam keluarganya, tapi bukan berarti tidak dapat dicoba. Untuk yang baru akan membina rumah tangga, seperti saya ini, rasanya perlu membicarakan bentuk komunikasi yang baik sejak awal dengan calon pasangan. Agar ke depan, kita sama-sama bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan memberi contoh kepada anak-anak kita kelak, karena orang tua adalah role model buat anak-anaknya. Apa yang dicontohkan, pun itu yang akan ditiru oleh mereka. Jika kita membiasakan sejak awal bagaimana berkomunikasi yang baik, bagaimana berperilaku yang baik, bagaimana mengakui kesalahan, bagaimana meminta maaf jika bersalah,bagaimana berterima kasih jika diberi sesuatu, insya Allah anak-anak akan meniru itu di manapun mereka berada.

So, selain pentingnya penanaman agama (yang tentu tidak saya bahas di sini), komunikasi, keterbukaan sungguh sesuatu yang amat penting. Ini pendapat pribadi saya. terlepas dari ini terlalu teoritis atau apalah, yang pasti tidak ada ruginya untuk menerapkannya meski mungkin sulit. Tapi lagi-lagi, mengkomunikasikan bentuk komunikasi terbaik dengan keluarga bisa menjadi sebuah awal yang baik untuk ke depannya.

_salmon

Author:

Simple but Strong Girl.. Belajar dan berbagi banyak hal dalam hidup, menjadikan hidup lebih bermakna.. tidak pernah ada yang sia-sia dalam hidup, selama bersyukur masih menjadi penguatmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s